Friday, November 13, 2009

Cuma Diajak Naik Angkot

Dua hari yang lalu, seorang teman kantor saya datang bersama anak laki-lakinya yang berusia 2 tahun. Hari itu, bocah bermata bulat bernama Reva itu sedang memperingati hari lahirnya. Tak ada yang istimewa pada hari itu. Teman saya hanya mengajak anaknya menyalami teman-teman sekantor, menyuapinya kue bolu meranti, minun dan pulang. Saya sendiri bingung mau memberikan apa sebagai kado karena kedatangannya mendadak.

Tak lama, teman saya dan anaknya pulang diantar seorang teman kantor saya yang lain.

Beberapa jam kemudian, teman saya yang anaknya sedang memperingati hari lahir datang lagi. Kali ini, ia datang dengan membawa dua kotak nasi uduk.

Sambil makan siang, kami bercengkerama. Ia bercerita mengenai alasannya mengajak Reva ke kantor hari itu. Alasannya, ia ingin memberikan kado kepada anaknya. Dan, itu berupa pelajaran moral. Jadi, pagi itu, Reva pergi ke kantor Sang Mama dengan mengendarai angkot. Tak takut, ia hanya sedikit bingung. Dan, sisanya Reva sangat menikmati perjalanan itu. Alasan teman saya melakukan itu sederhana saja. Ia bilang, agar si anak bisa lebih peka dengan lingkungannya dan tahu seperti apa rasanya menjadi orang lain yang tidak pernah merasakan nikmatnya berkendara dengan mobil pribadi.

Hah, saya terharu mendengarnya. Saya belum pernah mendengar seorang ibu mempunyai ide mulia seperti itu sebelumnya. Saya jadi berpikir, mungkin sudah seharusnya ibu-ibu zaman sekarang mulai memikirkan hal ini sebagai ungkapan kasih sayang mereka terhadap anak saat memperingati hari lahir. Ayo ciptakan generasi berbudi. Love you Mama Mitha!

Thursday, October 22, 2009

Cinta Menggebu Seperti dalam Opera Sabun

I looooove dolphin! Bisa dibilang, lumba-lumba inilah satu di samping jerapah yang masuk dalam kategori hewan kesayangan buat saya. Entah kenapa, lumba-lumba yang banyak jenisnya itu kelihatan sangat tulus dan setia, seperti anjing yang katanya sahabat terbaik manusia. Bedanya, lumba-lumba tinggal di laut. :)


Kecintaan saya terhadap lumba-lumba bermula pada suatu sore yang teduh, saat saya sedang bingung hendak melakukan apa. Saat itu, saya akhirnya menyalakan teve (hal yang jarang-jarang saya lakukan meskipun sedang tidak punya pilihan kegiatan sekalipun) dan menemukan tayangan soal lumba-lumba hidung botol (tursiops truncatus) di Kepulauan Karibia. Dalam tayangan itu, tersebutlah seorang peneliti yang kegiatan sehari-harinya mengamati tingkah laku lumba-lumba. Setiap hari, tanpa kenal bosan, dia berenang sambil menunggu kedatangan lumba-lumba di sebuah tempat layaknya sepasang kekasih yang membuat janji.

Nah, dari sekian banyak lumba-lumba, ada seekor yang menjalin persahabatan dengannya. Untuk menjalin komunikasi, mereka menggunakan bahasa tubuh dan sebuah bola karet sebagai perantara. Biasanya, sang peneliti dan lumba-lumba akan bermain hingga senja datang untuk kemudian kembali bertemu pada keesokan harinya. Suatu hari, sang peneliti diserang sepasukan hiu saat sedang menanti kedatangan lumba-lumba yang tak tepat waktu. Saat itu, sang peneliti sudah di ambang ajal. Tapi, tiba-tiba, lumba-lumba datang. Dan, dengan segala taktik, ia menghalau hiu-hiu dari sekitar sahabatnya. Lumba-lumba lalu mengangkut sang peneliti yang terkulai ke bibir pantai. Saat sadar, sang peneliti kaget sekaligus takjub dengan keberanian dan kepedulian lumba-lumba terhadap dirinya. Begitu pula saya yang menontonnya dengan jantung berdegup layaknya pemirsa setia opera sabun memuja tokoh idolanya.


Begitulah, dari sebuah kisah semi-dokumentasi di salah satu televisi swasta, saya jatuh cinta. Dan, saya pun berjanji, jika suatu saat bertemu lumba-lumba, saya akan menatap ke dalam matanya dan berkata, “saya sayang kamu lumba-lumba!”.

Wednesday, October 21, 2009

Hidup di Belanda

Hum, bukannya mau mengkhianati rasa cinta terhadap bangsa, tapi memang saya dan suami pernah terbersit keinginan untuk tinggal di Belanda. Buat kami, lepas dari sejarah perlakuan bangsa itu terhadap negeri kita tercinta ini, terhampar banyak sekali keindahan yang sangat memanggil-manggil untuk dinikmati. Rasanya, seperti diajak masuk ke sebuah buku dongeng dengan ilustrasi yang luar biasa memikat.


Kami ingin sekali rasanya bersepeda keliling kota sambil sesekali duduk di tepian Sungai Rhine ditemani obrolan dan segelas teh hangat. Atau berlarian di padang tulip di utara Belanda saat musim semi. Atau cukup duduk di Perpustakaan Leiden sambil menatap dan mengagumi foto-foto leluhur kami. Ya, kira-kira seperti itulah.


Tapi, namanya juga khayalan, masih sebatas mimpi. Mudah-mudahan suatu saat bisa tercapai! :)

Foto: www.greenglobetourism.com dan www.travelaboutinc.com

Friday, October 9, 2009

Polyvore

Thanks to Chira, I've found stress relief. :)
Here are some of my designs. Hope you like it.



Berperahu Kertas

Saya baru saja menyelesaikan membaca Perahu Kertas karya Dee. Memang, usai membacanya, perasaan saya tidak segegap gempita seperti waktu habis menuntaskan seri Supernova. Tapi, tetap saja meninggalkan kesan.

Buat saya, meski klise, kisah yang dirangkaikan Dee dalam Perahu Kertas tetaplah menarik. Ya, cerita cinta memang tidak melulu harus berakhir bahagia. Tapi, kalaupun iya, lantas kenapa? Saya setuju dengan apa yang digambarkan buku ini. Apapun yang kita coba wujudkan, hati tidak pernah memilih. Hati menuju tanpa disuruh. Hati tahu ke mana harus pulang.

Jadi, walaupun banyak yang bilang, ini hanyalah karya melankolis dari Dee, saya tetap mengacungkan dua jempol untuknya. Setidaknya Dee tahu harus menulis apa dan bagaimana menjadi dirinya sendiri. Seperti tokoh Kugy dalam buku ini, Dee tidak menulis untuk memuaskan orang lain, tapi menulis untuk dirinya sendiri. You go Dee!

Thursday, October 1, 2009

LIfe After...

If someone ask me how I feel after marriage, than the answer will be: "as I imagine; perfect!"



Passenger Seat-Death Cab for Cutie

I roll the window down
And then begin to breathe in
The darkest country road
And the strong scent of evergreen
From the passenger seat as you are driving me home.

Then looking upwards
I strain my eyes and try
To tell the difference between shooting stars and satellites
From the passenger seat as you are driving me home.

"Do they collide?"
I ask and you smile.
With my feet on the dash
The world doesn't matter.

When you feel embarrassed then I'll be your pride
When you need directions then I'll be the guide
For all time.
For all time.

Monday, June 1, 2009

hilang

seperti gabus tutup botol yang mengapung di laut lepas
aku seperti gabus tutup botol yang mengapung di laut lepas
timbul
tenggelam
timbul
tenggelam
terapung
menghilang
hilang